Jumat, 10 Juni 2011

PSIKOLOGI LINGKUNGAN "STRES"

PSIKOLOGI LINGKUNGAN
Nama : Azariah Kartika
Kelas : 3 PA 06
NPM : 10508034
Tanggal : 16-05-2011/Senin

STRES

Karakteristik dari stres adalah tidak hanya di identifikasi dasar simtomatologi dan perjalanan penyakit, akan tetapi juga salah satu dari faktor pencetus :
• Suatu stres kehidupan yang luar biasa, yang menyebabkan reaksi stres akut, atau
• Suatu perubahan penting dalam kehidupan, yang menimbulkan situasi tidak nyaman yang berkelanjutan, dengan akibat terjadi suatu gangguan penyesuaian.
Stres bisa dikatakan sebagai respon maladaptif yang dimana gangguan tersebut berupa penyesuaian yang merugikan sosial,pribadi,serta fisiologis. Stres berawal dari trauma,fobia,serta kecemasan yang telah terjadi pada diri manusia tersebut , sehungga berkelanjutan stres akut yang berat apabila tidak segera ditangani.

Ciri-Ciri Reaksi Stres :
• Harus ada kaitan waktu kejadian yang jelas antara terjadinya pengalaman stressor (fisik atau mental) dengan onset dari gejala, biasanya setelah beberapa menit atau segera setelah kejadian.
• Terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah selain gejala permulaan berupa keadaan “terpaku” (daze), semua hal berikut dapat terlihat seperti depresi,anxietas,kemarahan,kecewa,overaktif dan penarikan diri. Akan tetapi tidak satupun dari gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk waktu yang lama.
• Pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dari lingkup stressor-nya, gejala-gejala dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres menjadi berkelanjutan atau tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mereda setelah 24-48 jam dan biasanya hampir menghilang setelah 3 hari.
Stres bisa terjadi karena :
a. Pasca trauma
b. Penyesuaian
c. Anxiety
d. Fobia
e. Emosi

Apa Itu Stres ?
Stres bukanlah sesuatu yang mudah untuk diidentifikasi. Pada awalnya, istilah stres diambil begitu saja dari ilmu fisika. Pada saat itu manusia diperkirakan kurang lebih serupa dalam satu dan lain hal dengan obyek fisika, misalnya logam, yang mampu menahan kekuatan dari luar namun pada satu titik akan kehilangan kekuatannya bila dihadapkan pada suatu tekanan yang lebih besar. Namun, tidak seperti logam, manusia dapat memikirkan dan mempertimbangkan, juga mengalami, begitu banyak situasi sosial yang dapat membuat upaya mendefinisikan stres menjadi lebih kompleks dalam ilmu psikologi dibandingkan dengan ilmu fisika (Hobfoll, 1989).
Stres merupakan suatu ancaman dan tantangan yang ditempatkan oleh lingkungan pada diri manusia. Maka definisi terbaik untuk stres adalah respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stressor, yang mengancam dan menanggung kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).

Respon Tubuh Terhadap Stres ?
Menurut seorang pelopor penelitian mengenai stres yang dilahirkan di Austria, almarhum Hans Selye (1974,1983), stres sebenarnya adalah kerusakan yang dialami tubuh akibat berbagai tuntutan yang ditempatkan padanya. Berapapun keadian dari lingkungan atau stimulus akan menghasilkan respon stres yang sama pada tubuh. Seyle mengamati pasien yang memiliki masalah yang berbeda-beda: kematian seseorang yang dekat, kehilangan pekerjaan, ditangkap karena melakukan penggelapan. Tanpa memperhatikan masalah seperti aoa yang dihadapi oleh seorang pasien, gejala yang serupa muncul; hilangnya nafsu makan, otot menjadi lemah, dan menurunnya minat terhadap dunia.
Sindrom adaptasi umum (general adaptation syndrome/GAS) adalah konsep yang dikemukakan oleh selye yang menggambarkan efek umum pada tubuh ketika ada tuntutan yang ditempatkan pada tubuh gersebut. GAS terdiri dari tiga tahap: peringataan, perlawanan, dan kelelahan. Pertama, pada tahap peringatan alarm, individu memasuki kondisi shock yang bersifat sementara, suatu masa dimana pertahanan terhadap stres ada di bawah normal. Individu mengenali keberadaan stres dan mencoba mengjilangkannya. Otot menjadi lemah,suhu tubuh menurun, dan tekanan darah juga turun. Kemudian terjadi apa yang disebut dengan countershock, dimana pertahanan terhadap stres mulai muncul : korteks adrenal , mulai membesar, dan pengeluaran hormon meningkat.
Tahap alarm berlangsung singkat. Tidak lama kemudian, individu bergerak memasuki tahap perlawanan (resistance), dimana pertahanan terhadap stres menjadi semakin intensif, dan semua upaya dilakukan untuk melawan stres. Pada tahap pertahanan, tubuh individu dipenuhi oleh hormon stres; tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan pernafasan semua meningkat. Bila semua upaya yang dilakukan untk melawa stres ternyata gagal dan stres tetap ada, individu ppun memasuki tahap kelelahan (exhausted), dimana kerusakan pada tubuh semakin meningkat, orang yang bersangkutan mungkin akan jatuh pingsan di tahap kelelahan ini, dan kerentanan terhadap penyakit ini pun meningkat.
Walaupun demikian, tidak semua stres itu buruk, Eustress adalah onsep selye yang menggambarkan sisi positif dari stres. Berkompetisi di suatu kejuaraan atletik, menulis karangan, atau mengejar seseorang yang menarik membuat tubuh menghabiskan energi. Seyle tidak mengatakan bahwa kita harus menghindari semua pengalaman seperti ini dalam kehidupan kita, namun ia menekankan bahwa kita harus meminimalkan kerusakan pada tubuh kita.

Respon Stres Terhadapa Lingkungan ?
Banyak faktor, baik besar maupun kecil, yang dapat menghasilkan stres dalam kehidupan manusia. Pada beberapa kasus, kejadian-kejadian yang ekstrem, seperti perang, kecelakaan kendaraan, atau kematian seorang teman, dapat menghasilkan stres. Sementara, kejadian sehari-hari seperti tugas sekolah dan pekerjaan yang berlebihan, merasa frustasi karena kondisi keluarga yang tidak menyenangkan, atau hidup dalam kemiskinan, juga dapat menghasilkan stres.
a. Konflik : konflik terjadi ketika seseorang harus mengambil keputusan dari dua atau lebih stimulus yang tidak cocok. Tiga tipe konflik utama adalah, Konflik mendekat(terjadi bila individu harus memilih antara dua stimulus keadaan atau keadaan yang sama menarik), konflik menghindar (individu harus memilih antara dua timulus yang sama0sama tidak menarik, sebenarnya harus menghindari keduanya, namun mereka harus memilih salah satu), konflik mendekat/menghindar (hanya ada satu stimulus atau keadaan namum memiliki karakteristik yang positif dan juga negatif).
b. Stres yang dialami seseorang sangat mempengaruhi tingkah laku yang tidak sehat, seperti menggambarkan kesehatan yang tidak komponen psikologis, sering emosional, dan penarikan sosial.
c. Keyakinan mengenai kesehatan seperti, pengetahuan kesehatan, pengambilan keputusan.
d. Variasi kebudayaan dan etnis, perbedaan etnis sering terjadi, yang dimana adanya minoritas dan mayoritas, kemudian dapat dihubungkan bahwa kemiskinan pada etnis minoritsa sangat mempengaruhi stres, yang dimaana bisa menyebabkan kematian
e. Faktor-faktor sisoal budaya, ikut mempengaruhi kesehatan melalui peranannya dalam menentukan norma-norma budaya yang berlaku mengenai kesehatan, melalui hubungan sosial yang memberikan dukungan emosional, dan melalui dukungan bagi tingkah laku sehat ataupun yang tidak sehat. Atau nisa dikatakan juga stres akulturatif yang mengacu pada perubahan kebudayaan yang merupakan akibat dari kontak langsung yang sifatnya terus menerus antara dua kelompok kebudayaan yang berbeda. Kemudian stres akulturatif adalah konsekuensi negatif dari akulturasi.
Kejadian Stres Dalam Hidup Dan Sehari-Hari ?
Remaja dapat mengalami suatu spektrum stres, rentangnya dimulai dari yang tergolong biasa saja sampai yang berat. Pada bagisn yang tergolong biasa saja kita temukan pengalaman yang biasa dialami kebanyakan remaja dan dimana pola penanganan stres yang ada jelas. Misalnya, kebanyakan orang tua menyadari bahwa anak-anaknya sering sekali merasa iri satu sama lain dan oleh karena itu, ketika salah satu anaknya melakukan sesuatau dengan baikm saudaranya akan meras airi. Mereka tau bagaimana rasa iri ini bekerja dan tau cara-cara yang bisa dilakukan untuk membantu remaja menanganinya.
Stres yang lebih berat terjadi ketika anak-anak atau remaja harus dipisahkan darimorang tuanya, seperti perceraian orang tua, kematian, penyakit, atau diangkat sebagai anak asuh orang lain. Stres yang bahkan lebih berat lagi adalah pengalaman yang dimiliki remaja yang selama bertahun-tahun diabaikan atau diperlakukan dengan kejam, korban insest juga mengalami stres yang berat, sementara pedoman untuk menanganinya masihs sedikit (Williamson & Borduin, 1989).

Strategi Penanganan Stres Dengan Baik ?
• Strategi mendekati, meliputi usaha kognitif untuk memahami oenyebab stres dan usaha untuk menghadapi stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung, (Ebata & Moos, 1994).
• Strategi menghindar, meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimaliskan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik dari atau menghindar dari penyebab stres, (Ebata & Moos, 1994)
• Berpikir Positif dan Self-Efficacy, suasana hati yang positif dapat memperbaiki kemampuan remaja unutk memproses informasi secara efisien, membuat mereka menjadi lebih altruistik, dan memberi mereka harga diri yang lebih baik. Sikap yang optimis selalu lebih baik daripada sikap sikap yang pesimis dalam berbagai kasus, memberikan seseorang perasaan bahwa mengendalikan lingkungan mereka, Albert Bandura (1986,1989).
• Sistem dukungan, keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain terutama dengan keluarga dan teman secara konsisten, (Wagner, Cohen, & Brook, 1991).
• Meningkatkan Religiusitas terhadap Tuhan YME.
Kesimpulan :
Dari uraian diatas saya menyimpulkan, bahwa stres bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja, adapun faktor penyebabnya berawal dari diri sendiri dan lingkungan sekitar, senjata yang paling ampuh untuk mengatasi atau meminimalkannya adalah yang terpenting dari diri kita sendiri mau berusah dan maju untuk menjadi yang lebih baik, ibarat kata sebanyak apapun suport dari orang-orang terdekat apabila kita tidak bertindak itu sama saja tidak berguna, pendapat ini saya setuju juga dengan tokoh humanistik “Carl Roger” yang berpendapat “Suatu keunikan manusia adalah bentuk aktualisasi dapat dilakukan dengan dirinya sendiri, atau bisa dikatakan apabila seseorang ingin berkembang kearah yang lebih baik, obat yang paling ampuh adalah dirinya sendiri/Client centered therapy.
Dalam teori ini mendisiplinkan bahwa manusia harus bisa mandiri karena kalau kita terus bergantung pada orang lain, maka bisa dikatakan kita bukan orang yang bisa beraktualisasi kearah yang lebih baik. Kemudian dengan cara meningkatkan religiusitas kita sebagai makhluk Tuhan akan tau untung ruginya apabila kita menyia-nyiakan hal yang penting, dan selalu ingat Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar kemampuannya, jadi kalau seseorang stres lalu bunuh diri, atau menarik diri dari lingkungan, dan lain-lain itu adalah hal yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Note :
“Semoga dengan tugas yang saya rincikan ini bagi yang membacanya dapat bermanfaat dan berbagi ilmu dengan yang lainnya, sehingga kita semua bisa mencegah hal-hal yang tidak menguntungkan buat diri kita dan orang lain serta mempunyai langkah yang efisien dalam menanganinya, Amien.
Terima Kasih
“Salam damainya hati”


Sumber Informasi :
• Diagnosis Gangguan Jiwa, PPDGJ-11
• Diagnosis Gangguan Jiwa, PPDGJ-111
• Diagnosis Gangguan Jiwa, PPDGJ-IV
• Adolesence “Perkembangan Remaja”, John W. Santrock
• “Ada Apa Dengan Tubuhku”, New york 2011, Lynda Madaras & Area Madaras.

Senin, 25 April 2011

Teritorialitas, Hubungan personal, dan Privasi



Nama                          : Azariah Kartika                                           
Kelas                           : 3 PA 06
NPM                           : 10508034
Link Blog                   :


A.    TERITORIALITAS
Holahan (dalam Iskandar, 1990), mengungkapkan bahwa Teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan cirri pemiliknya dan pertahanan dari serangan orang lain.
Menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari territorialitas, yaitu :
1.       Kepemilikan atau hak dari suatu tempat
2.      Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu
3.      Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar
4.      Pengaturan dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika.

Menurut Altman (1975),
teritorial terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.       Teritorial Primer
Jenis teritorial ini dimilki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggar terhadap. Pelanggaran terhadap teritori uatam ini akan mengakibatkantimbulnya perlawanan dari pemiliknya karena menyangkut masalah serius terhadap aspek psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitasnya.
2.       Teritorial Sekunder
Jenis teritorial ini lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Teritorial ini juga dapat digunakan oleh orang lain yang masih di dalam kelompok ataupun orang yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu. Sifat teritorial jenis ini semi-publik.
3.      Teritorial Umum
                   Teritorial umum dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana territorial umum itu berada. Territorial umum dapat dipergunakan secara sementara dalam jangka waktu lama maupun singkat.
Apa perbedaan ruang personal dengan teritorialitas? Seperti pendapat Sommer dan de War (1963), bahwa ruang personal dibawa kemanapun seseorang pergi, sedangkan teritori memiliki implikasi tertentu yang secara geografis merupakan daerah yang tidak berubah-ubah
.

Privasi suatu lingkungan dapat dicapai melalui pengontrolan territorial, karena di dalamnya tercakup pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang meliputi:
1. Kebutuhan akan identitas, berkaitan dengan kebutuhan akan kepemilikan, kebutuhan terhadap aktualisasi diri yang pada prinsipnya adalah dapat menggambarkan kedudukan serta peran seseorang dalam masyarakat.
2. Kebutuhan terhadap stimulsi yang berkaitan erat dengan aktualisasi dan pemenuhan diri.
3. Kebutuhan akan rasa aman, dalam bentuk bebas dari kecaman, bebas dari serangan oleh pihak luar, dan memiliki keyakinan diri.
4. Kebutuhan yang berkaitan dengan pemeliharaan hubungan dengan pihak-pihak lain dan lingkungan sekitarnya (Lang dan Sharkway dalam Lang, 1987).
Menurut Fisher dkk (1984), pada teori-teori utama, suatu keluarga memiliki peraturan-peraturan teritorial yang memfasilitasi berfungsinya rumah tangga. Hal ini mendukung organisasi soaial keluarga dengan cara memperbolehkan perilaku-perilaku tertentu dilakukan oleh beberapa anggotanya, pada daerah-daerah tertentu (misalnya: orang tua dapat membangun keintiman di kamat tidur tanpa terganggu). Dalam satu studi tentang teritorialitas dalam kehidupan keluarga, ditemukan bahwa orang-orang yang berbagi kamar tidur menunjukan perilaku territorial, seperti halnya individu-ivdividu di meja makan (misalnya: dengan adanya pola tempat duduk). Anggota keluarga umumnya menghormati tanda-tanda territorial yang lain, seperti misalnya pintu yang ditutup dan pelanggaran aturan-aturan teritorial seringkali berakibat pada penghukuman orang-orang yang melanggarnya.
Perilaku teritorial dalam kelompok tidak terbatas pada teritori utama saja. Lipman (1967) menemukan bahwa rumah peristirahatan membuat klaim yang hampir eksklusif atas kursi-kursi tertentu dalam ruang sehari-hari. Mereka mempertahankan “teritori” mereka meskipun akan mengakibatkan ketidaknyamanan fisik dan psikologis.
Suatu studi yang mendukung pula asumsi Altman (1975) tentang pembedaan konseptual antara teritori primer, sekunder dan umum. Taylor dan Stuogh (1978) menemukan bahwa subjek melaporkan merasa memiliki kendali yang lebih besar di teritori primer (misalnya kamar di asrama), diikuti oleh teoriti sekunder (misalnya secretariat perkumpulan) dan teoriti umum (misalnya tempat minum, bar atau kafetaria). Pada banyak penelitian, perasaan mengendalikan atau mengontrol ini berkaitan dengan perasaan puas dan sejahtera (sense of well being), seperti juga efek positif lainnya (misalnya implikasi yang menguntungkan terhadap kesehatan). Dan studi yang dilakukan oleh Edney (1975) terhadap mahasiswa Universitas Yale memperjelas manfaat tambahan dari perasaan merasa berada di wilayah sendiri. Penelitian ini dilaksanakan di kamar salah seorang dari pasangan yang ada, di suatu asrama (teritori primer), dimana anggota yang lain menjadi “tamu pengunjung”. Subjek yang berada diwilayahnya sendiri dinilai (rated) oleh si tamu lebih santai, daripada si pemilik tempat menilai tamunya, dan pemilik kamar menilai kamarnya lebih menyenangkan dan bersifat pribadi daripada si tamu. Pemilik kamar juga menunjukan perasaan kontrol pasif yang lebih besar. Pada studi yang berhubungan. Edney dan Uhlig (1977) melaporkan bahwa subjek yang terdorong untuk berfikir bahwa kamar tersebut adalah teritorinya lebih tidak bergairah, mengatribusikan perilakunya lebih kepada kamarnya, dan menemukan setting tersebut lebih menyenangkan daripada yang lainnya dalam kelompak kontrol.
Menurut Altman (1975), territorial bukan hanya alat untuk menciptakan privasi saja, melainkan berfungsi juga sebagai alat untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial. Perilaku teritorialitas manusia dalam hubungannya dengan lingkungan binaan dapat dikenal antara lain pada penggunaan elemen-elemen fisik untuk menandai demarkasi teritori yang di miliki seseorang, misalnya pagar halaman. Teritorialitas ini terbagi sesuai dengan sifatnya yaitu mulai dari yang privat sampai dengan publik. Ketidakjelasan pemilikan territorial akan menimbulkan gangguan terhadap perilaku

B.     RUANG PERSONAL
Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz pada 1973 dan bukan merupakan  sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antronologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991). Selanjutnya dikatakan bahwa studi personal space merupakan tinjauan terhadap perilaku hewan dengan cara mengamati perilaku mereka berkelahi, terbang, dan jarak sosial antara yang satu dengan yang lain. Kajian ini kemudian ditransformasikan dengan cara membentuk pembataas serta dapat pula diumpamakan semacam gelembung yang mengelilingi individu dengan individu lain.
Masalah menegnai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling seseorang. Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambar ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa indivdu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang.
 Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian, antara lain: pertama, ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain. Kedua, ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri. Ketiga, pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi. Keempat, ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian. Kelima, ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak-jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan, saling membelakangi, dan searah.
Ada kecenderungan dari para peneliti untuk menyamankan ruang personal dengan suatu gelembung yang mengepung kita, dan memiliki sejumlah kegunaan. Sebagai contoh, Hayduk percaya bahwa ruang personal merupakan suatu bentuk tiga dimensional. Umumnya berbentuk silinder dan dari bentuknya kita dapat melihat bahwa bentuk tersebut ajeg pada bagian atas pinggang kita, tetapi kemudian makin menyampit dari pinggang ke bawah.
Dengan definisi ruang personal sebagai “batas yang tak terlihat yang mengelilingi kita, dimana orang lain tidak dapat melanggarnya”, maka ide ini dapat dikinotasikan secara jelas secara visual dari pada pemahaman yang hanya ditulis secara teoritis.
Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat empat zona spasial yang meliputi: jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik. Kajian ini kemudian dikenal dengan istilah Proksemik (kedekatan) atau cara seseorang menggunakan ruang dalam ruang berkomunikasi (dalam Altman, 1975).
Pertama, jarak intim adalah jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0-18 inci. Menurut Hall pada jarak yang akrab ini kemunculan orang lain adalah jelas sekali dan mungkin suatu saat akan menjadi sangat besar karena sangat meningkatnya masukan panca indera. Penglihatan, panas tubuh orang lain, suara, bau, dan tarikan nafas, semuanya menyatu sebagai tanda yang sangat jelas tentang keterlibatan orang lain. Pada jarak 0-6 inci (fase dekat pada jarak intim), kontak fisik merupakan suatu hal yang teramat penting. Hall menggambarkan bahwa pada jarak ini akan mudah terjadi pada saat seseorang sedang bercinta , olahraga gulat, saling menyenangkan, dan melindungi. Pada jarak ini kemungkinan untuk menerima dan menyampaikan isyarat-isyarat komunikasi adalah sangat luar biasa. Seseorang dapat melihat dengan jelas keseluruhan orang yang sedang dihadapinya seperti tekstur kulitnya, kerut dan cacat wajahnya, warna matanya, tingkat kepu tihan bola matanya, kerutan pada keningnya, dan mulutnya.
Pada jarak sedekat itu kita lebih dari melihat Zona yang kedua adalah personal distance (jarak pribadi), yang memiliki jarak antara 1,5-4 kaki. Jarak ini adalah karateristik kerenggangan yang biasa dipakai individu satu sama lain. Gangguan diluar jarak ini menjadi tidak menyenangkan. Jarak pribadi ini masih mengenal pembagian fase menjadi dua: fase dekat (1,5-2,5 kaki) dan fase jauh (2,5-4 kaki). Pada fase dekat masih memungkinkan banyak sekali pertukaran sentuhan, bau, pandangan, dan isyarat-isyarat lainnya, meski tidak sebanyak pada intimate distance. Otot-otot wajah, pori-pori-, dan rambut wajah, masih nampak/dapat dilihat, sama halnya pada intimate zone. Hall merasa bahwa ada fase dekat pada jarak personal ini diperuntukan bagi pasangan intim. Pada fase jauh yang meliputi jarak 2,5-4 kaki, jaraknya dapat memanjang sampai jarak dimana masing-masing orang dapat saling menyentuh dengan menglurkan tangannya.
Di luar jarak ini menurut Hall seseorang tidak dapat dengan mudah memegang tangan orang lain. Pada jarak ini komunikasi halus (fine grain communication) masih dapat diamati, termasuk warna rambut, tekstur kulit, dan roman muka. Isyarat suara masih banyak, namun bau dan panas tubuh kadang-kadang tigak terdeteksi jika tidak menggunakan parfum. Zona jarak pribadi adalah transisi antara kelompok intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.
Daerah ketiga adalah jarak sosial (social distance), yang mempunyai jarak 4-25 kaki dan merupakan jarak-jarak normal yang memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis. Dalam penelitian disuatu kantor terbukti bahwa pada susunan bangku-bangku dan perabotan milik kantor sering disusun ternyata secara tak sengaja berdasarkan pada zona jarak sosial. 
Pada bagian yang dekat dengan zona sosial atau pada jarak 4-7 kaki, kontak sosial tidak begitu terselaraskan dengan baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Isyarat-isyarat vokal seperti kekerasan dan tinggi rendahnya suara dapat dengan mudah dideteksi, tetapi panas tubuh dan isyarat-isyarat sentuhan lainnya menjadi relatif tidak penting. Interaksi diantara orang yang secara dekat bekerja sama dan diantara perkenalan-perkenalan yang terjadi secara kebetulan pada jarak ini, dan hal itu adalah jarak yang dapat diterima dan pantas dalam lingkungan umum.
Hasil pengamatan Hall, bahwa orang-orang yang ada dibandara atau dalam percakapan umum dijalan-jalan dan kantor-kantor seringkali menjaga jarak satu sama lain dalam range ini.
Fase yang ketiga adalah fase jauh atau dalam jarak 7-12 kaki, seringkali lebih formal, dimana pengamatan visual secara terinci seringkali terlawatkan , meskipun seluruh tubuh orang lain dapat dengan mudah dilihat. Panas tubuh, sentuhan dan bau biasanya tidak lagi ada pada jarak ini
Daerah yang keempat/terakhir pada zona publik, yaitu pada jarak 12-25 kaki atau jarak-jarak dimana isyarat-isyarat komunikasi lebih sedikit dibandingkan daerah-daerah terdahulu. Jarak ini secara khusus disediakan untuk situasi-situasi formal atau pembicaraan umum atau orang-orang yang berstatus lebih tinggi, misalnya dalam kelas.
Beberapa definisi ruang personal berdasarkan hasil-hasil penelitian:
  1. Ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain.
  2. Ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
  3. Pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai satu perubahan situasi.
  4. Ketika seseorang melanggar ruang personal lain, maka dapat berakibat kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian.
  5. Ruang personal berhubungan langsung dengan jarak-jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan, saling membelakangi, dan searah.
Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog bahwa dalam interaksi social terdapat zona spasial yang meliputi:
  1. Jarak intim
  2. Jarak personal
  3. Jarak sosial
  4. Jarak publik
Kajian ini kemudian dikenal dengan istilah Proksemik (kedekatan) atau cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi (dalam Altman, 1975).
  1. Jarak intim
Jarak intim adalah jarak yang dekat atau akrab keakraban dengan jarak 0-18 inci. Menurut Hall pada pada jarak yang akrab ini kemunculan orang lain adalah jelas ekali dan mungkin suatu saat akan menjadi sangat besar karena sangat meningkatnya masukan panca indera. Penglihatan, pans tubuh orang lain, suara, bau, dan tarikan nafas semuanya menyatu sebagai tanda yang sangat jelas tentang keterlibatan orang lain. pada jarak 0-6 inci (fase dekat jarak intim), kontak fisik merupakan suatu hal yang teramat penting. Hall menggambarkan, bahwa pada jarak ini akan mudah terjadi pada saat orang sedang bercinta olahraga gulat, saling menyenangkan dan melindungi. Pada jarak ini kemungkinan untuk menerima dan menyampaikan isyarat-isyarat komunikasi adalah sangat luar biasa. Seseorang dapat melihat dengan jelas keseluruhan orang yang sedang dihadapinya seperti tekstur kulitnya, kerut dan cacat wajahnya, warna matanya, tingkat keputihan bola matanya, kerutan pada keningnya, dan mulutnya. Pada jarak sedekat itu kita lebih dari sekedar melihat. Seseorang dapat menyentuh hampir semua bagian tubuh orang tersebut atau dengan mudah memeluknya. Seseorang dapat membaui napas dan parfum, merasakan perbedaan panas tubuh dan deru napasnya. Hall menyimpulkan bahwa pada “daerah keakraban” tersebut kaya akan syarat-syarat yang potensial untuk berkomunikasi, yang juga menyajikan banyak hal tentang seseorang. Mungkin juga kondisi seperti ini, yang dikatakan Hall sebagai jarak yang biasanya diperuntukkan kepada “intimate lovers” (pasangan kekasih yang sudah angat intim, suami istri).
Jika daerah zona ini menyenangkan dalam suatu situasi, yaitu ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain yang dicintainya, mungkin akan menjadi tidak menyenagkan dalam situasi lain. misalnya, ketika orang dengan tidak sengaja terpaksa untuk masuk ke dalam elevator yang penuh sesak, mereka seringkali menjadi tidak bergerak atau kaku, melihat dengan gugup kepada nomor-nomor lantai. Hal ini mungkin juga sebagai tanda bahwa mereka menyadari telah saling melanggar “jarak kedekatan” (intimate distance), tetapi berusaha untuk berbuat yang terbaik untuk menghindari interaksi yang tidak pantas.

2.   Jarak pribadi (personal distance)
Jarak ini adalah jarak karkteristik kerenggangan yang biasa dipakai individu satu sama lain. gangguan di luar jarak ini menjadi tidak menyenangkan. Jarak pribadi ini masih mengenal pembagian fase menjadi dua yaitu fase dekat (1,5-2,5 kaki) dan fase jauh (2,5-4 kaki). Pada fase dekat masih kemungkinan banyak sekali pertukaran sentuhan, bau, pandangan, dan isyarat-isyarat lainnya, meski tidak sebanyak pada intimate distance. Otot-otot wajah, pori-pori, dan rambut wajah, masih dapat Nampak dilihat, sama halnya pada intimate zone. Hall merasa bahwa pada fase dekat pada jarak personal ini diperuntukkan bagi pasangan intim. Pada fase jauh yang meliputi jarak 2,5-4 kaki, jaraknya dapat memanjang sampai jarak dimana masing-masing orang dapat saling menyentuh dengan mengulurkan tangannya. Di luar jarak ini menrut Hall seseorang tidak dapat dengan mudah memegang tangan orang lain. pada jarak ini komunikasi halus (fine grain communication) masih dapat diamati, termasuk warna rambut, tekstur kulit dan roman muka. Isyarat suara masih banyak namun bau dan panas tubuh tidak tidak terdeteksi jika tidak menggunakan parfum. Zona jarak pribadi adalah transisi antara konyak intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.
3.   Jarak sosial
Mempunyai jarak 4-25 kaki dan merupakan jarak-jarak normal yang memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis. Dalam penelitian disuatu kantor terbukti bahwa pada susunan bangku-bangku dan perabotan milik kantor sering disusun ternyata secara tak seengaja berdasarkan pada zona jarak sosial.
Pada bagian yang dekat dengan zona sosial atau pada jarak 4-7 kaki kontak visual tidak begitu terselaraskan dengan baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Isyarat-isyarat vocal seperti kekerasan dan tinggi rendahnya suara dapat dengan mudah dideteksi, tetapi panas tubuh dan isyarat-isyarat sentuhan lainnya menjadi relatif tidak penting interaksi yang secara dekat orang yang bekerja bersama dan diantara perkenalan-perkenalan yang terjadi secara kebetulan pada jarak ini, dan hal itu adalah jarak yang dapat diterima dan pantas dalam lingkungan umum. Hasil pengamatan Hall, bahwa orang-orang yang ada di bandara atau dalam percakapan umum di jalan-jalan atau dan kantor-kantor seringkali menjadi jarak satu sama lain di dalam range ini.



C.    PRIVASI
Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain (Dibyo Hartono, 1986).
Rapoport (dalam Soesilo, 1988) mendefinisikan privasi sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan untuk mencapai interaksi yang diinginkan. Privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak-pihak lain dalam rangka menyepi saja.
Marshall (dalam Wrightman & Deaux, 1981) dan ahli-ahli lain (seperti Bates, 1964; Kira, 1966 dalam Altman, 1975) mengatakan bahwa privasi menunjukkan adanya pilihan untuk menghindarkan diri dari keterlibatan dengan orang lain dan lingkungan sosialnya. Sedangkan menurut Altman (1975) privasi adalah proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri sendiri dan akses kepada orang lain.

Fungsi Privasi :
Altman (1975) menjabarkan beberapa fungsi privasi :
  1.  Fungsi pertama privasi adalah pengatur dan pengontrol interaksi interpersonal yang berarti sejauh mana hubungan dengan orang lain diinginkan, kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya bersama-sama dengan orang lain. privasi dibagi menjadi 2 macam, yaitu privasi rendah (terjadi bila hubungan dengan orang lain dikehendaki), dan privasi tinggi (terjadi bila ingin menyendiri dan hubungan dengan orang lain dikurangi).
  2.  Fungsi kedua privasi adalah merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain, yang meliputi keintiman / jarak dalam berhubungan dengan orang lain.
  3.  Fungsi ketiga privasi adalah memperjelas identitas diri.

faktor-faktor Yang Mempengaruhi Privasi
Terdapat faktor yang mempengaruhi privasi yaitu faktor personal, faktor situasional, faktor budaya.
1.       Faktor Personal. Marshall (dalam Gifford, 1987) mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang sesak akan lebih memilih keadaan yang anonim dan reserve saat ia dewasa. Sedangkan orang menghabiskan sebagian besar waktunya di kota akan lebih memilih keadaan anonim dan intimacy.
2.       Faktor Situasional. Beberapa hasil penelitian tentang privasi dalam dunia kerja, secara umum menyimpulkan bahwa kepuasaan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford, 1987).
3.       Faktor Budaya. Penemuan dari beberapa peneliti tentang privasi dalam berbagai budaya (seperti Patterson dan Chiswick pada suku Iban di Kalimantan, Yoors pada orang Gypsy dan Geertz pada orang Jawa dan Bali) memandang bahwa tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi (Gifford, 1987).

Pengaruh Privasi Terhadap Perilaku
Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mecatat bahwa pengelolahan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan. Sedangkan Schwartz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang “sulit”. Sementara hal yang senada diungkapkan oleh westin bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan, kita dapat melakukan pelepasan emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari dan kita juga dapat melakukan evaluasi diri serta membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri. Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.

Sumber Informasi :








Senin, 28 Maret 2011

Kepadatan Dan Kesesakan

Nama : Azariah Kartika
Kelas : 3 PA 06     
Npm :10508034
Link Blog :                                                                                                                                                                                                          
 

Kesesakan dan Kepadatan

            Kesesakan adalah bentuk lain dari persepsi terhadap lingkungan. Kalau kita berada dalam  bus atau terminal-terminal yang penuh dengan penumpang  kita akan merasa sesak karena didesak orang.
            Kepadatan adalah ukuran jumlah orang per unit area. Dapat diterapkan untuk pengukuran dimana pun. Artinya, tidak terikat pada tempat tertentu dan kepadatan dapat terjadi oleh siapa pun.
            Jadi kesesakan berhubungan dengan kepadatan, yaitu banyaknya jumlah manusia dalam suatu batas ruang tertentu. Makin banyak jumlah manusia berbanding luasnya ruangan, makin padatlah keadaannya.


        Faktor yang membuat seseorang merasa sesak adalah  karakteristik personal dan situasi. Variabel utama dari pengaruh personal adalah locus of control atau control personal, yakni kecendrungan seseorang untuk menganggap control itu ada pada dirinya (internal) atau di luar dirinya (eksternal).
        Variabel lain berkaitan dengan pengalaman akan kesesakan, yaitu kecendrungan afiliatif atau sosiabilitas. Seseorang yang mempunyai kecendrungan mudah bergaul dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap situasi yang padat dari pada mereka yang cenderung tidak afiliatif.
        Pengalaman, budaya, dan gender, juga dapat mempengaruhi rasa kesesakan. Pengalaman seseorang tentang kepadatan tinggi dapat berupa pengalaman jangka pendek, seperti kehidupan di asrama selama masa studinya, atau merupakan pengalaman panjang yang kemudian terbenam dalam budaya. Apabila orang berfikir bahwa daerah pedesaan atau daerah pinggir kota mencerminkan suatu sub budaya tertentu, latar belakang ini pun akan menjadi faktor budaya dalam masalah kesesakan.  Dalam penelitian Walden, Nelson, dan Smith (1981), diketahui bahwa penghuni asrama yang berasal dari daerah pedesaan merasakan kesesakan lebih besar dari pada mereka yang berasal dari daerah perkotaan.
        Sementara itu dalam hal gender, melalui suatu penelitian di laboratorium di dapati bahwa pria lebih bereaksi negatif terhadap kesesakan dibandingkan dengan wanita sehingga perilaku sosial mereka menjadi kasar. Kaum wanita lebih dapat menahan stress. Kepadatan tinggi berarti ada banyak orang di sekitar anda. Namun, kesesakan bisa meningkat dan bisa juga tidak bergantung pada apa yang dikerjakan orang lain itu.

        Kepadatan adalah suatu hal yang dapat terjadi oleh siapapun dan dimanapun. Berikut ini terdapat faktor-faktor yang dapat menyebabkan kepadatan pada diri seseorang yaitu :
                Kepadatan penduduk yaitu jumlah individu per satuan luas. Faktor yang menyebabkan kepadatan penduduk ialah kelahiran, kematian, imigrasi, dan emigrasi.
                Kepadatan lalu lintas yaitu jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan raya, dimana jika terjadinya kepadatan lalu lintas, akan menyebabkan kemacetan.
faktornya ialah : ketidaktertiban pengguna jalan raya seperti mengendarai kendaraan yang tidak beraturan, ketidakdisiplinan pengemudi angkot dalam menaikan dan menurunkan penumpang, dan banyak yang menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum, sehingga pengguna kendaraan pribadi menambah volume jalan raya inilah yang  dapat menyebabkan kepadatan.

           
Dampak akibat kepadatan penduduk di Indonesia  salah satu yang sering ditemui adalah “Kemiskinan Di Kalangan Masyarakat”

Kemiskinan Di Masyarakat”
Era globalisasi dan reformasi membawa perubahan yang cepat di segala sendi kehidupan.Perubahan itu berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan budaya bangsa Indonesia,seperti kemajuan teknologi,komunikasi,pendidikan dll.Setiap orang yang hidup di masyarakat memiliki kedudukan atau status tertentu,dan berhak memilih jalur hidupnya seperti apa.Terkadang hidup itu pilihan yang dimana kita memilih yang terbaik buat diri kita,tapi apa jadinya jika apa yang kita inginkan tidak tercapai?,semua orang pasti punya harapan ingin menjadi seseorang yang lebih baik di zaman yang semakin maju dan modern ini.tapi kemiskinan masih sering kita jumpai di Negara kita tercinta ini Indonesia,yang dimana salah satu factor terpenting masyarakat belum berkembang kearah yang lebih baik,padahal segala sesuatu sudah lebih maju di Negara kita seperti teknologi,komunikasi,pendidikan,dll.
Dan yang pasti kita semua bertanya-tanya,Upaya apa yang dilakukan untuk memberantas kemiskinan?.Karena kemiskinan yang terjadi di Negara kita Indonesia apabila tidak diselesaikan maka akan mengakibatkan tingkat kejahatan yang semakin tinggi,bayangkan saja “seorang ayah hanya karena tidak mempunyai uang dan tidak bekerja nekat mencuri susu di warung dekat rumahnya hanya untuk anaknya,(Jatim,2010)”.Tingginya perusakan Taman Kota hanya karena “Warga miskin yang tidak mempunyai rumah lalu menetapi taman-taman kota serta kolong jembatan jalanan penyebrangan sebagai rumahnya”.dan yang tidak kalah memprihatinkan adalah”Banyaknya pengemis di jalan raya,angkutan umum,zebra cross dll,dan juga ikut serta melibatkan anak dibawah umur bahkan anak bayi pun jadi andalan pengemis tersebut”.Kalau seperti contoh diatas tadi Negara pun bisa dirugikan,seperti:”Investor yang batal membuat kontrak perjanjian kerja hanya karena Ibu kota Jakarta penuh dengan pemandangan tidak menyenangkan seperti sampah dikolong jembatan,pengemis di jalan-jalan &Negara dirugikan 1,5 Miliyar Rupiah”.
 Dan “Seorang ibu ditingal suaminya dia nekat bunuh diri bersama keempat anaknya karena beban ekonomi yang begitu berat(Semarang,2006).serta “Seorang ayah yang mengidap gangguan jiwa hanya karena sang istri beserta anak-anaknya meninggalkannya karena ayah tersebut pengangguran dan tidak bisa menafkahi keluarganya(Tuban 2010)”.percuma Negara kita bisa dibilang hebat karena sudah memiliki fasilitas modern yang segala sesuatunya lebih mudah akan tetapi banyak masyarakat kita yang masih dilanda kemiskinan serta dampak dari contoh diatas,ibaratkan “Burung tanpa sayap maka burung itu tidak akan terbang untuk mencapai apa yang dia inginkan&diharapkannya”.untuk itu akan dijelaskan apa yang menjadi penyebab utama kemiskinan serta cara mengatasinya.
Penyebab Kemiskinan :
1
Pengaturan keuangan Negara yang kurang baik

2
Ketidakmampuan untuk mengatur keuangan keluarga dengan baik

3
Pemerintahan yang korupsi

4
Kesempatan untuk berusaha di bidang ekonomi kurang merata

5
Tidak adanya keadilan social dalam masyarakat

6
Kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi tidak merata

7
Malas memanfaatkan peluang untuk berkembang

8
Gampang menyerah jika mengalami kegagalan

9
Memiliki kecerdasan yang rendah

10
Kurang bekerja keras untuk memperbaiki ekonomi

11
Pemerintah kurang membuka lapangan kerja

12
Pendidikan yang rendah

13
Negara kurang memiliki perhatian terhadap masalah kemiskinan


Solusi Mengatasi Kemiskinan :
1
Perawatan kesehatan dasar yang murah,layak diberikan kepada warga Negara yang miskin

2
Seluruh rakyat miskin dalam usia produktif layak mendapatkan pelatihan padat karya

3
Sudah selayaknya pemerintah membagikan bahan pokok murah bagi masyarakat miskin

4
Subsidi perumahan murah diberikan kepada orang miskin

5
Semua siswa yang miskin mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah

6
Layak medapatkan bantuan modal usaha dari pemerintah

7
Pemerintah memperluas lapangan kerja bagi warga miskin bagi yang di PHK atau belum bekerja layak

8
Membrantas korupsi




Program Kemiskinan :
1
Kredit untuk usaha kecil menengah

2
Beasiswa pendidikan

3
Bantuan biaya kesehatan

4
Program keluarga berencana

5
Operasi pasar penyediaan bahan kebutuhan pokok murah

6
Pelatihan padat karya

7
Penyediaan beras murah kepada warga miskin

8
Bantuan Gizi untuk balita keluarga miskin


Perilaku Seseorang Yang Berubah Karena Kemiskinan



Daftar Pustaka :